Feeds:
Posts
Comments

HYPOCRITE….

Apakah semua orang di dunia ini munafik? Banyak kaum Hawa yang merasa bahwa lawan jenis mereka — para pria — pasti dan selalu akan munafik. Pertama aku mendengar pendapat ini aku tertawa. Dan aku pun mencoba mencari logika serta pembenaran dari pernyataan tersebut.

Ada dua perbedaan mencolok yang bisa kita kenali dari wanita dan pria. Para wanita hanya bisa mencampuradukkan logika dan perasaan mereka. Sehingga ketika mereka berpikir, perasaan atau hati mereka pasti selalu turut campur dalam segala pengambilan keputusan. Ini lah kenapa para wanita bukan lah pengambil keputusan yang terbaik. Ini karena “nature” atau sifat alami mereka yang mudah terpengaruh perasaan, ketika otak mencoba berpikir.

Bagaimana dengan kaum pria? Seperti yang mungkin sudah bisa kalian tebak. Para penyandang hormon testosteron ini memiliki kemampuan unik yang bisa memisahkan antara logika dan perasaan, atau dengan kata lain antara hati dan otak. Sehingga ketika pria mengambil keputusan, dia bisa dengan tega mengambil keputusan logis yang meskipun menurut hati nurani manusia terasa jahat.

Perbedaan ini lebih jauh lagi bisa dilihat jika menginjak topik yang selalu dihindari oleh manusia: seks. Wanita pada umumnya hanya bisa memikirkan hal tersebut hanya jika itu menyangkut perasaan tertentu yang mendalam pada seseorang yang mereka kagumi atau mereka sukai. Sedangkan pria bisa dengan pintarnya menutup hatinya ketika memikirkan tentang hal tersebut dan hanya menggunakan logikanya serta insting alaminya untuk be-reproduksi. Meskipun aneh, ini adalah hal yang telah terbukti sepanjang masa. Lihat saja begitu banyaknya lokalisasi yang disediakan untuk para pria jika dibandingkan dengan yang disediakan untuk para kaum Hawa. Karena para wanita tidak “tega” atau tidak bisa meninggalkan hati mereka untuk mengikuti insting alamiah mereka seperti yang bisa dilakukan oleh para pria.

Meskipun terdengar tak manusiawi, tetapi begitulah sifat alami para pria. Mereka bisa menutup hati mereka ketika menggunakan logika mereka. Dan mereka juga bisa menutup logika mereka dan hanya menuruti kata hati mereka. Ini juga menjelaskan kenapa kaum pria ketika sedang emosi seringkali tidak mempedulikan perasaan orang lain. Dengan kata lain kaum pria lebih mudah dibutakan oleh perasaan dan hati mereka.

Seperti kalian lihat. Ada kekurangan dan kelebihan di masing- masing gender yang kita kenal. Dan ironisnya, kelebihan kaum pria menutupi kekurangan para wanita, dan begitu juga sebaliknya.

Nah! Kenapa para wanita sering menganggap semua pria munafik dan penuh kepura- puraan? Ini karena seorang pria bisa dengan mudah mendekati beberapa wanita sekaligus ketika mencari pasangan hidup. Karena ketika mereka melakukan itu, mereka hanya menggunakan logika bahwa harus ada cadangan jika pendekatan dengan yang satunya gagal. Dan mereka menutup hati mereka ketika mereka berpikir: “toh asal belum jadian atau janur kuning belum melengkung kita harus tetap memiliki cadangan”. Mereka hanya mulai membuka hati mereka ketika perasaan mereka terbalaskan oleh seorang wanita yang mereka anggap spesial. Di saat ini lah hati para kaum pria mulai mengambil alih; dan emosi, cemburu, cinta, dan perasaan lainnya bercampur aduk di dalam hati mereka. Tetapi ada satu kelemahan kaum pria, mereka tidak mudah mengelola emosinya seperti yang bisa dilakukan para kaum wanita. Buktinya? Pria yang patah hati akan lebih kacau emosinya daripada para wanita. Para pria bahkan bisa menggunakan kekerasan dan fitnah semau mereka saat mereka patah hati. Karena saat mereka terluka, logika mereka tertutup dan hati atau perasaan menguasai diri mereka sepenuhnya.

Apakah wajar untuk pria mendekati beberapa wanita sekaligus? Itu tergantung pada bagaimana seorang pria dididik dan diajar oleh orang tua, keluarga, serta sahabat- sahabatnya. Tetapi dalam hidup, aku tidak pernah menemui para pria yang tidak mendekati beberapa wanita sekaligus. Meskipun ada seorang pria yang tampak setia dan hanya mendekati seorang wanita, tapi dalam hatinya, pria itu selalu mencoba mancari- cari cadangan atau berkenalan dengan orang baru.

Apakah ini etis? Penjelasan yang logis adalah bahwa kaum pria melakukan hal ini karena mereka takut terluka! Ya! meskipun banyak kaum wanita menganggap para pria tidak berperasaan, tapi seorang pria selalu takut terluka dan ditolak. Rasa takut tersakiti dan terluka ini sama besarnya diantara kedua gender. Ini adalah hal yang harus kalian sadari! Pria juga bisa jatuh terpuruk ketika terluka, karena ketika itu terjadi, logika mereka menutup dan mereka jatuh ke dalam jurang emosi yang dalam.

Inti dari cerita ini adalah bahwa semua orang takut terluka ketika mereka membuka diri dan membuka topeng mereka. Dengan kata lain semua orang — baik pria maupun wanita — selalu takut membuka topeng kemunafikan atau topeng kepura- puraan mereka karena mereka harus menjaga diri mereka dari orang lain. Karena ketika topeng tersebut terbuka, bagian diri manusia yang paling rapuh juga ikut terbuka, yaitu hati mereka.

Perlu diketahui juga bahwa orang yang paling munafik adalah orang yang paling perlu dikasihani. Mungkin hanya ada satu hal yang mengacu pada kemunafikan, atau sifat tampak polos yang berlebihan, dan atau topeng emosi yang tebal: yaitu rasa sakit dan terluka yang mendalam di masa lalu. Mereka butuh disembuhkan secara kejiwaan dan butuh teguran yang membangun dari kita semua untuk belajar lebih mempercayai orang dan mencoba selalu jujur pada perasaannya.

PS: aku tidak mencoba memberi pembenaran atas semua tindakan jahat manusia. Aku hanya ingin menyodorkan logika dari tingkah laku manusia.

Hidup ini keras! Dan akan semakin menjadi lebih keras tatkala himpitan ekonomi, sosial, dan politik akan terus menyerang. Manusia akan semakin sulit mempercayai satu sama lain dan akan bertindak lebih hati- hati untuk mempercayai orang lain. Manusia akan mempunyai prinsip: “pedang dilawan dengan pedang”. Ini disebabkan kita merasa hidup semakin susah dan ketika ada orang yang membuatnya tambah susah, kita akan marah dan mengkronfontasi dia secara langsung.

Yup! Kita hidup di jaman dimana setiap orang mengira bahwa semua orang yang tidak dikenalnya adalah orang jahat yang tidak dapat dipercaya. Kita semakin mudah menilai orang dari penampilan dan tatapan mata. Ketika kita melihat orang yang berpenampilan tak karuan, kita akan memandang rendah dia. Ketika melihat orang yang memiliki tatapan mata tajam dan jarang tersenyum, kita akan merasa was- was dan menjauh karena kita berpikir orang seperti mereka selalu mencari masalah. Orang semakin sulit meminta maaf dan memberi maaf.

Bayangkan saja anda adalah seorang bangsawan yang dididik dengan lemah lembut. Lalu anda terpaksa pindah untuk hidup di sebuah lingkungan yang keras. Lingkungan yang kumuh dipenuhi dengan pengedar obat, pencopet, dan hal- hal buruk lainnya yang bisa diimajinasikan oleh akal manusia. Maka pasti anda hanya mempunyai dua pilihan: menjadi sama kerasnya atau mundur untuk lari. Tapi tampaknya kehidupan masa sekarang tidak banyak memberi kita kesempatan untuk lari. Entah dengan cara yang aneh, kita akan selalu terpaksa untuk bertahan hidup di suatu lingkungan atau komunitas yang keras. Dan disanalah kita harus belajar mengimbangi untuk menjadi sama kerasnya agar kita tidak tertindas. Tapi ingat ini: JANGAN PERNAH KEHILANGAN JATI DIRIMU!!

Karena seringkali orang berusaha untuk bertahan hidup dengan mengorbankan satu hal berharga yang dia miliki: jati dirinya. Bagaimana mengidentifikasi ketika seseorang kehilangan jati diri? Mudah saja! Ketika anda (setelah berubah menjadi keras dan tangguh) bertemu dengan sahabat lama atau keluarga yang sudah bertahun- tahun tidak berjumpa. Sahabat anda atau keluarga anda itu akan berpendapat bahwa anda telah berubah dan bahwa mereka hampir tidak mengenali anda lagi. dan anda akan terkejut bahwa anda menemui kesulitan untuk bisa berbicara dan bersua dengan keluarga anda atau sahabat lama anda itu seperti masa lalu lagi. karena di mata mereka, anda telah menjadi terlalu keras dan anda telah berubah serta kehilangan jati diri anda. Mereka merasa tidak cocok mengobrol atau berbicara dari hati ke hati lagi dengan anda. Dan mereka akan menjauhi anda setelah menyadari perubahan dalam diri anda tersebut. Bahwa anda telah menjadi terlalu keras pada diri anda.

Dibutuhkan kebijaksanaan dan umur yang cukup untuk memahami seberapa banyak sifat keras yang kita butuhkan agar bisa bertahan hidup. Tetapi ingat selalu, bahwa anda memilki jati diri, yaitu sifat- sifat atau karakter- karakter yang ditanamkan oleh orang tua anda sejak anda kecil. Jangan pernah kehilangan jati diri ini. Jangan pernah mengingkari diri mu yang sesungguhnya. Karena ketika begitu anda mengingkarinya, kehidupan ini akan hanya menjadi seperti sebuah permainan dan pertarungan tiada henti bagi anda. Anda hanya akan merasa bahwa anda hidup hanya untuk bertahan dan menjatuhkan saingan- saingan anda.

Jangan pernah kehilangan jati diri anda. Jangan pernah melupakan siapa diri anda sebenarnya. Meski pun hidup semakin bertambah keras.

A PERFECT LISTENER…

Profesor, Doktor, ataupun Master. Begitulah kita memanggil seseorang yang ahli di dalam bidangnya, entah itu bidang kedokteran, fisika, geologi, atau yang lain- lainnya. Tapi pernahkah kalian menghitung- hitung berapa lama yang dibutuhkan untuk menjadi seorang Profesor? Professor termuda yang pernah aku temui mendapatkan gelarnya ketika dia berumur sekitar 35 tahunan. Itu berarti dia butuh 15 tahun belajar terus menerus, kegagalan yang selalu menerpa, dan kesuksesan yang tidak boleh membuatnya jumawa. Itu adalah waktu minimal yang dibutuhkan oleh seseorang untuk menjadi seorang Profesor. Rata- rata bahkan butuh 20 hingga 30 tahun! Bayangkan penderitaan dan kesabaran yang harus mereka tempuh untuk menjadi ahli dalam suatu hal!

Aku hanya ingin menunjukkan betapa lama yang dibutuhkan seseorang untuk menjadi ahli dalam suatu hal. Nah! Pernah ga kalian bertemu seseorang yang ahli dalam perasaan orang? Seseorang yang selalu bisa mendengarkan dengan baik, memberi nasihat yang tepat, serta memahami perasaan kalian? Sebut saja dia bagai seorang konselor yang sempurna bagi kalian. Entah apapun masalahnya; keluarga broken home, pengkhianatan oleh seorang sahabat, kehilangan seseorang, atau kehilangan cinta. Pernah ga kalian menyadari bahwa orang- orang seperti mereka (konselor yang sempurna itu) hanya bisa memahami perasaan kalian karena dia juga pernah mengalaminya. Hanya orang yang pernah tersulut api yang tahu rasanya sakit terbakar api. Hanya orang yang pernah menderita penyakit berat yang tahu betapa menderitanya terkena penyakit tersebut. Hanya orang yang pernah dimanfaatkan orang yang tahu betapa ga enaknya pengalaman seperti itu.

Intinya, semakin banyak orang menderita, dia akan semakin “sempurna untuk menjadi seorang konselor. Orang yang banyak menderita lebih sabar mendengarkan curahan hati orang lain serta memberikan nasihat yang terbaik. Aku hanya ingin mengajak kalian berpikir sejenak: ketika kalian sedang curhat kepada seseorang yang kalian anggap konselor yang sempurna itu, apakah kalian menyadari berapa banyak penderitaan yang pernah dia alami? Sehingga dia bisa begitu tampak bijaksana.

Seorang motivator pernah berkata padaku, inti dari menjadi seorang motivator yang hebat adalah suffering atau penderitaan. Hanya seseorang yang telah mengalami begitu banyak penderitaan dalam hidupnya yang bisa menjadi pendengar yang setia; karena mereka tahu rasanya tidak didengarkan oleh orang lain. Hanya orang yang telah banyak menderita yang bisa member nasihat yang sempurna, karena mereka telah mengalami hal- hal buruk dan mereka telah survive dari semuanya itu. Hanya orang yang pernah jatuh dan berdiri lagi yang bisa member imotivasi yang hebat.

Orang- orang seperti mereka (konselor yang sempurna) ini adalah orang yang sangat jarang ada di dunia ini. Aku ingin mengajak kalian mensyukuri keberadaan mereka. Karena seringkali aku melupakan konselor ku setelah masalah ku selesai. Seringkali aku lupa betapa banyak bantuan yang diberikan konselor ku ketika semuanya telah menjadi damai. Dan aku seringkali lupa berterimakasih atas berjam-jam waktu yang mereka berikan untuk mendengarkan ku. Dan aku juga lupa untuk bersyukur atas nasihat- nasihat yang telah mereka berikan. Semoga kalian tidak menjadi seperti aku.

Selama aku hidup aku telah bertemu banyak orang seperti mereka. Mereka bijaksana, sabar mendengarkan, dan bahkan ketika kita baru kenal pun kita merasa mereka bisa dipercaya dan bahwa mereka akan bisa mendengarkan curhat kita dengan sabar. Mereka bisa saja sahabat kita yang tiak hanya mendengarkan dan mendukung kita, tetapi juga memarahi kita ketika kita salah arah. Mereka bisa saja orang yang jauh lebih tua yang kita percayai. Mereka bisa saja pembimbing rohani di tempat kita beribadah. Mereka bisa saja seorang konselor sejati yang telah menempuh pendidikan ilmu psikologi.

Memang susah membedakan antara sahabat curhat dan konselor yang sempurna. Tetapi ada satu hal yang membedakannya: apapun masalah mu, konselor yang sempurna selalu hampir bisa memberikan jawabannya, sedangkan sahabat curhat kadang- kadang hanya bisa bingung dan mendengarkan dengan sabar.

Bersyukurlah jika dalam hidup kamu telah bertemu dengan konselor yang sempurna tersebut. Karena mereka teman sejati yang akan selalu memberi jawaban dalam pertanyaan- pertanyaan hidup mu.

PS: thanks for two my best friends who have become those perfect counselors to me. God bless them.

Older Posts »